Akhir pekan yang menyenangkan
Bertemu sahabat-sahabat alam
Berdiskusi tentang lingkungan
Berbicara tentang kehidupan
Merencanakan sebuah karya besar
Anak-anak pun bermain dengan riangnya
Memanjat menara bambu
Mendayung perahu karet
Berlarian di sepanjang galengan empang
Mengamati burung-burung khas pesisir
Membaca buku-buku yang menjadi cikal bakal perpustakaan alam
Saat kaku ini melangkah pulang
Berjalan di atas tumpukan pasir dan lumput
Menyibak ilalang yang tumbuh liar
Beriring mentati yang mulai tenggelam
Memancarkan cahaya senjanya di angkasa
..dan mimpi pun menjadi kenyataan..
-Anonymous-
Minggu, 21 Juni 2009
Minggu, 15 Maret 2009
- now is all we have -
Bagi gw, kehidupan ini bagaikan sebuah perlombaan, pada awal perlombaan, kita diberikan uang sebesar $ 86,400. Uang tersebut harus kita habiskan dalam sehari penuh, terserah digunakan untuk apa. Pada akhir acara, uang yang tersisa akan ditarik kembali jika kita gagal untuk menggunakannya sepanjang hari. Nah apa yang akan kita lakukan? Sudah barang tentu, dari setiap sen uang tersebut akan kita pergunakan sebaik-baiknya.
Secara tidak sadar, kita mengikuti perlombahan seperti itu setiap hari. Perlombahan itu dinamakan kehidupan. Setiap pagi, kita diberikan deposit/simpanan awal berupa WAKTU sebanyak 86.400 detik. Pada malam hari, apapun hasilnya, segala pengeluaran kita terhadap deposit/simpanan awal itu akan dicatat. Jika kita tidak mempergunakan seluruh deposit itu pada saat itu juga, maka kita akan kehilangan kesempatan mempergunakkannya untuk selama-lamanya. Kita tidak dapat menabungnya untuk dipergunakan esok hari, karena setiap malam, segala sisa waktu yang tidak kita pergunakan akan lenyap selama-lamanya. Karena itu, hargailah setiap waktu yang kita miliki. Hiduplah untuk masa sekarang sebab hanya itulah yang kita punya. Nikmati dan bagilah waktu kita untuk seorang yang kita sayangi, cukup khusus sehingga diri kita rela untuk ‘membuang’ waktu kita bersamanya. Ingatlah bahwa waktu tidak akan menunggu seseorang pun. Kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri, dan hari ini adalah hadiah, karena itulah ia disebut “present”.
-----------------------------------------------------------------
Hanya dalam hitungan detik semua berubah. Karena itu, hargailah setiap detik demi detik kehidupan kita. Setiap tarikan napas kita. Karena, kita tidak pernah tahu, apakah detik berikutnya kita masih diizinkan bernapas.
Waktu terus berlalu. Emosi dan perasaan datang dan pergi silih berganti. Seperti bulan dan matahari. Siang dan malam. Semua yang ada di dunia ini berjalan secara alami. Mengikuti naluri. Maka, matahari yang tak pernah memaksa untuk menerangi malam, atau bulan yang selalu ingin menjadi purnama setiap hari. Semuanya harus selaras. Seperti alam yang menyesuaikan diri dengan penuh kesabaran, namun meyakinkan.
Niscaya, hidup akan terasa jauh lebih ringan dan mudah jika kita berserah diri. Berpasrah. Bersabar. Tapi, juga yakin bahwa semua akan berlalu, bahwa kemarin bukanlah milik kita lagi dan hari esok belum tentu jadi milik kita.
Zara Zettira ZR
Sabtu, 14 Maret 2009
Milikku, Bukan Milikku
Suatu hari, seorang ibu dan anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Karena teriknya sinar matahari yang begitu menyengat, mereka berhenti sebentar untuk melepas dahaga di sebuah warung kecil di tepi jalan. Keduanya membeli minuman dingin yang tersedia di warung dan sedikit jajanan khas pinggir jalan. Tanpa sengaja si anak menjatuhkan jajanan tersebut dari tangannya sehingga semuanya tumpah ke tanah. Si anak kemudian berjongkok hendak mengumpulkan makanan tersebut ke dalam pembungkusnya untuk dibuang, tetapi sang ibu menarik tangannya. “Udah De, biarin aja,” kata sang ibu. Si anak terlihat bingung, “Tapi, Ma, kan jadi kotor. Kata Mama kalau Ade numpahin sesuatu harus diberesin biar ngga kotor?” Begitulah kira-kira pendidikan mengenai lingkungan hidup yang didapatkan oleh sebagian besar anak di negeri kita. Pendidikan tersebut memegang prinsip, “Jaga dan peliharalah dengan sepenuh hati apa yang menjadi milikmu, yang lainnya bukan urusanmu”. Prinsip ini bias dibilang egois, selalu lebih memikirkan dirinya sendiri. Prinsip ini sebenarnya sudah melekat dalam diri manusia tanpa perlu diajarkan-bayangkan bagaimana prinsip ini akan semakin melekat kuat dan tak tergantikan apabila diajarkan secara turun menurun. Pada dasarnya prinsip ini memiliki sifat positif jika dilihat dari sisi kecintaan dan pemeliharaan atas segala sesuatu yang kita miliki, yang mencerminkan rasa syukur kita. Yang membuatnya menjadi salah adalah ketidakpedulian kita terhadap hal-hal di luar diri kita atau di luar milik pribadi kita. Selain itu, sempitnya pemikiran kita dalam menentukan apa yang milik kita dan apa yang bukan milik kita membuat prinsip ini semakin salah. Kita mengartikan “milik kita” dengan terlalu sempit dan dangkal, yakni hanya sebatas “kepunyaan pribadi, punya saya sendiri”. Kita belum mampu menerima bahwa “milik saya” juga dapat berarti “kepunyaan saya bersama dengan orang lain di sekitar saya/milik bersama”. Kita sulit membangun konsep bahwa “milik bersama” juga adalah “milik saya”. Kita sering menyalahartikan “milik bersama” sebagai “bukan milik siapa-siapa”. Ketidakmampuan ini membuat kita sulit menerima kenyataan bahwa ada beberapa hal yang tidak kita miliki secara pribadi melainkan bersama-sama dengan orang lain, tetapi tetap milik kita dan kita berkewajiban sebagaimana kita menjaga dan memelihara apa yang kita miliki secara pribadi. Salah satu dari beberapa hal tersebut adalah lingkungan hidup.
Prinsip serta konsep “milik” yang salah tersebut menyebabkan ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup yang dapat berakibat fatal. Yang lebih fatal lagi, prinsip dan konsep yang salah tersebutlah yang terus melekat dan bahkan diajarkan kepada anak-anak negeri kira, tunas muda yang akan menjadi penerus kehidupan bangsa ini-dan bahkan lebih dari itu, mereka juga adalah penerus kehidupan di bumi ini. Apa yang diajarkan kepada mereka hari ini, akan menentukan kehidupan mereka dan seluruh umat manusia di bumi ini esok hari.
Kita semua tahu bahwa di zaman modern ini, ada banyak sekali masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Masalah-masalah tersebut bukan hanya masalah yang menyangkut lingkungan alam, melainkan juga lingkungan sosial (ingat, lingkungan hidup tidak hanya mencakup alam tempat makhluk hidup tinggal tetapi juga mencakup kehidupan yang ada di dalamnya, salah satunya kehidupan dan perilaku manusia/kehidupan sosial). Penyebabnya yang paling mendasar adalah kurangnya kepedulian terhadap lingkungan hidup akibat prinsip dan konsep “milik” yang salah tadi. Kita merasa bahwa lingkungan hidup itu bukan milik kita sehingga kita tidak perlu menjaga dan memeliharanya. Kita tahu betul bahwa kita adalah bagian dari lingkungan hidup, tetapi kita belum mampu menanamkan dalam diri kita bahwa lingkungan hidup juga adalah bagian penting dari hidup kita, sehingga tidak ada rasa tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Kita sering kali menganggap bahwa lingkungan hidup sudah memang seharusnya ada untuk kita dan mendukung perikehidupan kita (take it for granted) tapa menyadari bahwa di balik segala sesuatu yang lingkungan hidup berikan kepada kita terdapat tanggung jawab yang besar.
Ada banyak dari kita yang tidak menyadari fenomena alam maupun sosial yang sedang terjadi di sekeliling kita. Kita sering kali tidak memiliki sense of crisis atau kepekaan terhadap keadaan genting, yang mungkin terlihat sepele tetapi sebenarnya sedang mengancam kehidupan kita. Kita sering kali tak acuh pada isu-isu tersebut karena kita belum benar-benar merasa terancam oleh mereka kita sering kali terlalu dimanja oleh fasilitas dan segala kemudahan yang dapat kita nikmati. Saat orang-orang khawatir akan isu semakin panasnya suhu bumi, kita masih belum merasa terancam karena kita memiliki AC yang dapat menyejukkan kita dari rasa panas. Ketika orang-orang merasa terancam akibat kemungkinan bahwa daerah tempat kita tinggal akan tenggelam akibat pemasan global, kita masih merasa tenang karena kita mampu pindah ke tempat lain yang belum tenggelam.
Di kala orang-orang menjerit karena harga BBM yang terus melambung hingga mencekik leher, kita merasa aman-aman saja karena kita punya cukup banyak uang dan masih mampu membayar harga tersebut. Di saat orang-orang di sekitar kita kesulitan membeli sembako, kita malah masih dengan gembiranya berfoya-foya di pusat-pusat pembelanjaan dan hiburan. “Asal yang punya gue aman, gue udah senang, mau bumi hancur kek, loe pada susah kek, bodo amat,” begitu kira-kira pola pikir kita. Jika pola pikir ini tidak diubah, jangan berharap anak cucu kita akan punya kesempatan untuk menikmati udara yang segar setiap hari atau damai dan tenteramnya bumi, padahal setiap anak memiliki hak untuk itu.
Oleh karena itu, perlu ada pembaruan pola pikir dan perbaikan konsep “milik” dalam diri kita masing-masing, terutama dalam konsep berpikir anak. Tenggelamnya dalam pemikiran yang salah akan membawa mereka pada kehancuran di masa depan. Mereka berhak dan harus mengetahui hak mereka untuk menikmati dan memanfaatkan lingkungan hidup sekaligus hak mereka untuk memelihara dan melestarikannya. Sejak dini mereka sudah harus diajarkan konsep “milik” yang benar tentang lingkungan hidup sehingga mereka betul-betul merasa memiliki dan menjadi bagian dari lingkungan hidup, maka dengan sendirinya mereka akan cinta pada lingkungan hidup. Jika sudah cinta, apa pun akan dilakukan demi kebaikannya. Jika sudah cinta, tak perlu lagi dipaksa untuk merawat atau melestarikan, malah akan dengan sendirinya timbul hasrat untuk memelihara tanpa merasa terbebani atau terpaksa.
Hubungan anak dengan lingkungan hidup harus dijalin layaknya dua sejoli yang sedang merajut kasih. Pertama, mereka harus berkenalan terlebih dulu. Setelah berkenalan, mereka masuk ke tahap penjajakan, yakni tahap untuk saling mengenal lebih dalam, dan untuk memulainya harus ada pihak yang lebih aktif untuk mengambil langkah pertama, dalam hal ini si anaklah yang harus aktif (dengan didukung oleh orang-orang di sekitarnya). Setelah mengenal dengan lebih baik, rasa sayang akan mulai tumbuh, yang diikuti dengan rasa memiliki, dan berujung pada rasa cinta yang mendalam, yang berarti mereka sudah siap untuk sebuah hubungan. Dalam hubungan ini terjadi proses memberi dan menerima. Lingkungan hidup memberikan banyak manfaat bagi si anak, si anak memberikan pemeliharaan yang baik dan penuh kasih sebagai ungkapan rasa terima kasih. Dalam relasi ini juga diperlukan pengertian. Si anak tidak akan memaksakan kehendaknya terhadap lingkungan hidup. Ia akan berusaha menahan egonya dan mengendalikan dirinya serta belajar rela berkorban demi menyakiti lingkungan hidup. Tentunya lingkungan hidup juga akan menerima niat itu dengan “tidak marah-marah kepadanya”. Seperti layaknya pasangan kekasih, tak ada lagi milikmu dan milikku, melainkan milik kita. Jika kita analogikan dengan matematika, 1 + 1 = 1, bukan lagi 1 + 1 = 2. Oleh karena itu, marilah kita mengevaluasi diri karena seperi layaknya suatu kesatuan, hilang satu hilanglah semuanya. Akankah menjadi penyesalan (nantinya) bila kita kehilangan bumi tempat berpijak ini karena sikap egois yang senantiasa hanya menghargai sesuatu yang dianggap milik pribadi dan tidak peduli dengan apa yang menjadi milik bersama?
Selasa, 30 Desember 2008
Sejarah?
Dulu gw paling males ama yang namanya pelajaran sejarah..Bagi gw mempelajari sejarah tu ga ada gunanya..
Buat apa? lha wong itu dah terjadi? terus klo dah tahu kita mau apa??
Gw males banget klo ada orang yang coba ngungkit2 sejarah atau mencari kebenaran dari sejarah,,
Udahlah,,it's enough,,ga usah di ungkit2 lagi..semua sudah berlalu,,hidup harus melihat ke depan bukan melihat ke belakang..
Sekarang gw baru sadar klo itu salah besar!
Ternyata dalam hidup ini, kita harus sesekali melihat ke belakang untuk melangkah lebih maju,,
Analoginya seperti ketika kita sedang mengendarai mobil,,ketika kita ingin mendahului mobil lain,,
Kita harus melihat ke spion untuk melihat apa yang ada dibelakang kita,sehingga kita aman untuk mendahului mobil lain..
Begitu juga dengan hidup, ketika kita ingin melangkah lebih maju,ada baiknya kita melihat ke belakang, melihat sejarah. Dengan begitu, kita dapat melangkah maju dengan penuh keyakinan..
Selama ini gw selalu beranggapan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Ternyata selama ini gw salah mengartikan pepatah ini,,gw menyangka pengalaman itu=pengalaman pribadi..
Ternyata itu salah besar,,pengalaman yang dimaksud di sini ga terbatas pada pengalaman pribadi aja,tapi juga pengalaman orang lain..
- Orang pandai adalah orang yang belajar dari pengalamannya, tapi orang yang cerdas belajar dari pengalaman orang lain -
Terdapat garis pemisah yang cukup jelas di sini, apa itu?
Bila kita belajar dari pengalaman diri sendiri, itu berarti kita harus pernah susah/gagal terlebih dahulu sebelum sukses setelah belajar dari kegagalan kita tersebut...akan tetapi, kalo kita cerdas, kita harus belajar dari pengalaman orang lain sehingga diharapkan kita tidak perlu gagal terlebih dahulu sebelum mencapai sukses. Kita dapat melangkah maju dengan lebih cepat jika kita dapat selalu belajar dari pengalaman orang lain.
Dan belajar dari pengalaman orang lain itu erat kaitannya dengan sejarah!!
Yup, itulah intinya!! Pelajaran sejarah membantu kita untuk belajar dari pengalaman dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang di masa lalu!
Dan karena itulah, saat ini gw jadi tertarik banget ama sejarah,,bagaimana negeri ini di bangun, bagaimana kisah hidup orang2 sukses, apa saja kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang di masa lampau, pemikiran-pemikiran apa saja yang pernah dilontarkan orang,dsb. Haya tiga kata yang dapat gw katakan sekarang: GW CINTA SEJARAH!! Yes, i love it very much! and i hope you too..
Senin, 16 Juni 2008
99 Ways to Make a Better World
Shop with a canvas bag instead of using paper and plastic bag ● Wash clothes with cold water instead of hot ● Turn off electrical appliances when not in use ● Connect your outdoor lights with a timer ● Use traps instead of rat poisons and insect killers ● Minimize pesticide use ● Copy and print on both sides of paper ● Reuse items like envelopes, folders and paper clips ● Use mailer sheets for interoffice mail instead of an envelope ● Use e-mail instead of paper correspondence ● Use recycled paper ● Use discarded paper for scrap paper ● Use ceramic or glass coffee mug instead of a disposable cup ● Use solar power for home and water heating ● Purchase radial tires and keep them properly inflated for your vehicle ● Paint with brushes or rollers instead of using spray paints to minimize harmful emissions ● Install water saving devices on your faucets and toilets ● Don’t wash dishes with the water running continuously ● Avoid products with several layers of packaging when only one is sufficient ● Only use electrical appliances when you need them ● Buy recycled product ● Maintain and repair durable product instead of buying new ones ● Reuse item like bags and containers when possible ● Use cloth napkins instead of paper ones ● Use reusable plates and utensils instead of disposable ones ● Use reusable containers to store food instead of aluminum foil and cling wrap ● Buy rechargeable batteries for devices used frequently ● Reuse packaging cartons and shipping materials. Old newspapers make great packaging material ● Use public transit whenever possible ● Compost your vegetable scraps ● Buy used furniture ● Recycled everything: newspapers, bottles and cans, aluminum foil, etc ● Don’t use electrical appliances when you can easily do by hand, such as opening cans ● Use cold water in the washer whenever possible ● Use less chemical when cleaning ● Save wire hangers and return to the dry cleaners ● Donate used items to a charitable organization or thrift shop ● Flush the toilet less often ● Turn off the water heater before you leave for vacation ● Start a compose pile ● Use only organic fertilizers ● Compost your leaves and yard debris, or take them to a yard debris recycler ● Use compact fluorescent light bulbs to save energy ● Grow bamboo instead of building a fence ● Use a flash drive instead a CD ● Advise people around you about the dangers of global warming ● Eat all your meal at the restaurant to avoid taking home in plastic bag ● Use waste water from washing clothes to water your plants ● Use sunlight instead of electric light ● Turn off the engine while fueling your car ● Take the stairs instead of using the elevator ● Stop wasting food because food scraps give off methane gas ● Clean your air conditioning regularly ● Stop using aerosol sprays to reduce CFC ● Open the window to cool your room instead of using air conditioning ● Buy product that are labeled environmentally friendly ● Use a car that is just big enough for your family ● Use biological energy like biodiesel and ethanol ● Replace your old refrigerator ● Defrost your refrigerator frequently ● Take out the unnecessary items from the refrigerator every week ● Use sunlight to dry your clothes ● Use clothes made from natural resources ● Install an automatic safety cut-out for your electricity system ● Use green colored glass to reduce the heat in your home ● Stop burning grass in the field ● Reduce the brightness of your computer monitor ● Set a timer to turn off your air conditioning before dawn ● Build houses to make use of natural air currents and light ● Don’t put hot food in refrigerator ● Grow your own kitchen garden ● Buy organic vegetables ● Buy locally made products to reduce transportation ● Divide your recycled garbage into relevant materials ● Turn off your computer monitor at break times ● Shut off electrical equipment in the evening when you leave work ● Use a portable computer as it uses less energy than a desktop model ● Just print in black and white wherever possible ● Do not drive over the speed limit ● Don’t carry unnecessary stuff in the trunk of your car ● Check your car regularly to make sure it is in good condition ● Check your tires regularly ● Check your car for oil or other leaks, and recycle motor oil ● Keep your car tuned up and your oil changed ● Keep your tires properly inflated ● Keep your wheels properly aligned ● Cut driving miles ● Save trash and dispose of it at a rest stop ● Buy a car that is more fuel-efficient and produces lower emissions ● Use smaller paper for smaller memos ● Avoid buying food or products packaged in plastic or styrofoam containers since they cannot be recycled ● Buy locally grown food when possible ● Don’t buy products made from endangered animals ● Join a conservation organization ● Volunteer your time to conservation projects ● Give money to conservation projects ● Encourage your family, friends, and neighbors to save resources too ● Teach children to respect nature and the environment ● Plant a tree ● Use your water thriftily ●
Sabtu, 14 Juni 2008
Siapakah aku?
Aku adalah teman tetapmu. Aku adalah penolongmu yang terbesar atau bebanmu yang terberat. Aku mendorongmu maju atau menyeretmu menuju kegagalan. Aku sepenuhnya tunduk pada perintahmu. Sebagian hal yang kulakukan mungkin sebaiknya kamu serahkan saja kepadaku, maka aku akan dapat melakukannya dengan cepat dan tepat.
Aku mudah di atur ― kamu tinggal tegas terhadapku. Tunjukkan kepadaku, bagaimana persisnya kamu ingin sesuatu itu dilaksanakan dan setelah beberapa kali belajar aku akan melakukannya dengan otomatis, aku adalah hamba dari semua insan besar, dan sayangnya, juga hamba dari semua pecundang. Mereka yang besar, telah kujadikan besar. Mereka yang gagal, telah kujadikan pecundang.
Aku bukan mesin walaupun aku bekerja dengan ketepatan seperti mesin ditambah inteligensi manusia. Kamu bias menjalankan aku demi keuntungan atau demi kehancuran ― tak ada bedanya bagiku.
Ambillah aku, latihlah aku, tegaslah terhadapku, maka aku akan meletakkan dunia di kakimu. Kendurlah terhadapku maka aku akan menghancurkanmu.
Siapakah aku?
aku adalah KEBIASAAN
Sumber : The 7 habits
Rabu, 11 Juni 2008
Undanglah “hiu-hiu kecil” ke kehidupan kita
Satu lagi cerita motivasi..
Seperti yang telah kita sama-sama tahu Bangsa Jepang merupakan bangsa yang sangat menyukai makanan mentah terutama ikan mentah yang segar. Tidak seperti bangsa kita, Indonesia, Jepang mempunyai perairan yang terbatas. Hal ini menyebabkan mereka tidak memiliki persediaan ikan yang cukup untuk rakyatnya. Nelayan negeri matahari terbit ini harus menempuh perjalanan cukup jauh, mengarungi lautan luas untuk mencari ikan. Makin jauh mereka mencari ikan, makin jauh pula jarak yang harus ditempuh ketika pulang. Untuk menghemat ongkos selama pelayaran, maka didisainlah kapal yang cukup besar untuk menampung ikan hasil tangkapan.
Dengan kondisi seperti ini, ikan hasil tangkapan sudah tidak segar lagi. Bahkan sebagian aroma ikan itu menurunkan selera orang Jepang. Para penggemar ikan tidak menyukai ikan yang tak lagi segar apalagi dengan aroma yang telah berubah. Harga ikan hasil tangkapan itu pun turun, sehingga nelayan merugi.
Untuk menghindari kerugian, para nelayan melengkapi kapal mereka dengan lemari pendingin guna menjaga kesegaran ikan. Dengan adanya lemari itu, daya jangkau tangkapan pun menjadi lebih luas. Ikan tangkapan dimasukkan ke lemari pendingin sehingga dapat mengurangi resiko kebusukan. Namun para penggemar ikan di Jepang mampu membedakan dengan baik ikan yang masih segar dengan ikan beku. Mereka tak menyukai ikan yang telah dibekukan. Harga jual ikan pun kembali jatuh.
Para nelayan tidaklah menyerah semudah itu. Mereka lalu menempatkan tangki yang cukup besar di dalam kapalnya guna menampung ikan hasil tangkapan. Dengan cara ini, kesegaran ikan hasil tangkapan dapat terjaga.
Namun dengan cara ini, ikan yang hidup di tangki itu tidak mampu bergerak lincah sebagaimana ketika ikan itu hidup di laut bebas. Semakin lama para nelayan melaut, gerakan ikan itu semakin lambat. Ternyata hal ini berpengaruh pada kesegaran ikan. Para penggemar ikan di Jepang tidak menyukai ikan yang fisiknya kurang segar.
Tidak kehabisan akal, para nelayan ini memasukkan ikan hiu kecil di dalam tangki itu. Hiu-hiu kecil itu mampu memakan beberapa ikan dalam tangki. Namun, keberadaan ikan hiu ini menimbulkan kepanikan di dalam tangki itu. Ikan hasil tangkapan nelayan berenang sekuat tenaga untuk menghindari sergapan ikan hiu.
Dengan kondisi seperti ini, ikan dapat tiba di pelabuhan dengan kondisi segar. Mengapa? Karena selama perjalanan mereka terus bergerak aktif guna menghindari sergapan ikan hiu kecik itu. Walaupun telah di tangkap berminggu-minggu, cita rasa ikan tetap terjaga seperti kondisi semula.
Nah, cerita di atas memberikan inspirasi bila kita ingin menjadikan hidup kita lebih hidup, undanglah “hiu-hiu kecil” dalam hidup kita. Sebagian besar dari kita akan berusaha sekuat tenaga bila diberi lingkungan yang menantang. Contoh sederhananya dapat kita lihat pada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa lari, badan saya gendut, kaki saya sakit. Ketika mereka dihadapkan pada sebuah lorong dimana seekor anjing galak lepas dan siap mengejar mereka, apakah mereka akan tetap mengatakan tidak bisa lari? Pasti orang tadi akan lari terbirit-birit.
Karena itu, jangan terlena pada kondisi nyaman kita sekarang, sesekali cobalah keluar dari zona kenyamanan kita, undanglah “hiu-hiu kecil” dalam hidup kita mulai sekarang, maka hidup akan menjadi lebih hidup dan penuh gairah. Believe it or not. Silakan kita buktikan pada diri kita masing-masing.
Selasa, 10 Juni 2008
Rumah Kedamaian
Sebuah intisari dari tulisan Gede Prama..
Banyak dari kita yang punya pandangan sendiri mengenai hidup. Kita bebas memaknai hidup sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Bagi saya hidup adalah sebuah guest house. Tamu yang datang adalah kebahagiaan, kesedihan, pujian, cacian, anugerah, bencana, dsb. Oleh karena itu, BELAJARLAH UNTUK SELALU TERSENYUM! Mengapa? Karena senyum merupakan hal dasar untuk menciptakan guest house yang nyaman, indah, dan damai.
Rumah kedamaian sesungguhnya adalah tempat di mana semuanya diterima dengan senyuman. Semuanya sudah ada hukumnya, sesederhana menyentuh air kemudian basah, menyentuh api kemudian terbakar.
Tatkala semua bermandikan senyuman, kesadaran akan membimbing manusia menjumpai taman kedamaian idah nan menawan. Bukan serba membahagiakan, tapi serba senyuman. Di taman kebahagiaan ini, setiap pagi manusia bergumam tenang, ada 24 jam yang segar untuk diisi dengan senyuman karena senyuman membantu kita memasuki hari dengan kelembutan, dengan pengertian.
Jumat, 06 Juni 2008
Pilih mana? Kerang Mutiara atau Kerang Rebus?
Satu buah cerita motivasi yang baru saya baca..
Kita semua tahu,di tengah lautan banyak hidup kerang dan berbagai makhluk hidup laut lainnya. Kerang adalah salah satu binatang yang menarik, sering kali binatang ini menjadi primadona manusia karena mampu menghasilkan sesuatu yang amat berharga. Mutiara. Apakah kamu semua tahu proses terjadinya mutiara?
Saya pernah mendengar sebuah cerita dari bangsa kerang,,waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah, ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka..tutup..buka..tutup. nah, suatu ketika, saat cangkang itu sedang terbuka sebutir pasir masuk ke dalam cangkang itu. Sang kerang muda pun menangis sambil memanggil-manggil ibunya. “Bu sakit bu..ada pasir masuk ke dalam tubuhku.”
Sang ibu pun menjawab,”Sabar ya, Nak, jangan pedulikan sakit itu, bila perlu berikanlah kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu itu.” Kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia menangis, tapi air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya itu. Hal itu terus-menerus ia lakukan. Dengan baluran air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur berkurang bahkan kemudian hilang sama sekali.
Ingatlah saudara ku, “Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan, kamu akan menjadi seperti kerang rebus atau kerang yang tak ada harganya. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberi manfaat pada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, kamu akan menjadi mutiara.”
So,,kamu memilih menjadi apa? Kerang rebus atau kerang mutiara? Ingat hidup adalah sebuah pilihan..kamu bebas memilih..
Jadi kawanku, terserah kamu memilih untuk menjadi kerang rebus atau kerang mutiara. Kalau kamu menjadi kerang rebus kamu akan dijual secara obral di pinggir jalan. Sebaliknya, kalau kamu memilih menjadi kerang mutiara, kamu akan berada pada tempat dan bersama orang-orang terhormat. Mungkin hampir semua dari kita akan memilih menjadi kerang mutiara,,kalau memang kamu memutuskan hidup seperti itu, maka kamu harus siap menghadapi cobaan,bahkan kamu yang harus menguji dirimu sendiri (dalam kasus kerang tadi, memasukkan pasir ke dalam tubuhnya sendiri) untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik. Jangan tunggu hingga kesulitan dan masalah menghampiri diri kita, jangan tunggu sampai Tuhan memberikan cobaan pada diri kita, kitalah yang harus menguji diri kita sendiri, SEKARANG!, untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Jangan cengeng, jangan mengeluh, jangan menyerah, perlakukan setiap masalah dan cobaan secara lembut, jadikan dia sebagai sahabat setia yang akan selalu membimbing kita menuju tangga kesuksesan dan kemuliaan, bukan hanya untuk diri kita melainkan juga untuk semua orang di sisi kita.
